Dalam dunia olahraga maupun aktivitas sehari-hari, gangguan pada sistem gerak sering kali dianggap sama oleh masyarakat awam dengan sebutan umum “salah urat”. Padahal, secara medis, kondisi yang dialami bisa sangat berbeda antara keseleo, dislokasi, maupun cedera otot. Memahami perbedaan mendasar ini sangat krusial karena setiap jenis cedera memerlukan penanganan yang spesifik. Kesalahan dalam mengidentifikasi masalah sejak awal dapat berujung pada penanganan yang tidak tepat, yang justru berisiko memperpanjang masa pemulihan atau bahkan menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan tubuh.

Berbeda dengan keseleo, dislokasi merupakan kondisi yang jauh lebih serius karena melibatkan pergeseran tulang dari posisi normalnya di dalam sendi. Pada kasus dislokasi, ujung tulang benar-benar keluar dari mangkuk sendinya, sehingga area tersebut akan tampak mengalami deformitas atau perubahan bentuk yang nyata secara kasat mata. Pasien biasanya tidak mampu menggerakkan sendi tersebut sama sekali dan merasakan nyeri yang sangat intens karena adanya tekanan pada saraf atau pembuluh darah di sekitarnya. Dislokasi memerlukan tindakan reposisi yang profesional untuk mengembalikan tulang ke tempat asalnya sebelum dilakukan terapi pemulihan jaringan lunak di sekitarnya.

Sementara itu, cedera otot atau strain terjadi ketika otot atau tendon, yakni jaringan yang menghubungkan otot ke tulang, mengalami peregangan berlebih atau robek. Kondisi ini sering kali dipicu oleh kontraksi otot yang terlalu kuat secara mendadak atau penggunaan otot yang berlebihan dalam jangka waktu lama tanpa istirahat yang cukup. Berbeda dengan keseleo yang menyerang sendi, strain biasanya dirasakan sebagai rasa kaku, kram, atau nyeri tumpul di bagian perut otot. Dengan memahami karakteristik unik dari masing-masing cedera ini, pasien dapat lebih bijak dalam mencari bantuan profesional, seperti yang tersedia di klinik khusus cedera, untuk memastikan bahwa pemulihan dilakukan sesuai dengan struktur anatomi yang terdampak.








Leave a Reply